“Hah, itu sekolah negeri? Kok seragamnya beda?”
Begitulah ekspresi pertama banyak orang ketika mengetahui sekolahku. Sekolah yang disebut sebagai ‘Sekolah Pinggiran, Prestasi Gedongan’ itu adalah sekolahku sewaktu SMP. Yang ingin saya ceritakan kali ini bukanlah sebuah prestasi dari sekolah saya. Akan tetapi bagaimana sekolah saya bisa ‘mencetak’ generasi penerus bangsa Indonesia yang berguna bagi masyarakat dan bangsa.
![]() |
| Dokumen Pribadi, Sewaktu Kegiatan Gebyar Merah Putih |
Sekolah saya merupakan sekolah negeri, namun ada beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan sekolah negeri yang lainnya. Mulai dari jam masuk sekolah yang tergolong lebih cepat, hingga seragamnya yang menyerupai sekolah Agama Islam. Sekilas, memang orang lain akan menilai sekolah yang saya masuki adalah sekolah Islam karena memang siswa di sana didominasikan oleh umat islam. Tetapi nyatanya ada beberapa siswa yang beragama lain. Dan yang perlu diingat lagi adalah sekolah saya merupakan sekolah umum negeri.
Selain dari seragamnya, hal yang paling penting bagiku sewaktu SMP yang pada saat itu baru kumasuki sekitar tahun 2007 adalah bagaimana pihak guru-guru maupun pegawai lainnya yang mampu mendidik kami dengan penuh keikhlasan. Bahkan setelah usai sekolah pun, setiap hari para guru selalu menunggu kami di kantor untuk melihat ekstrakurikuler kami. Meski tidak ada kewajiban bagi mereka untuk menunggu kami, tapi semangat mereka dalam membina kami itu tak bisa dinomor duakan.
![]() |
| Dokumen Pribadi |
Mereka rela meluangkan waktunya demi siswa siswinya. Komunikasi antara guru dan murid seperti tidak ada batasnya. Tidak ada yang menghalanginya seperti dinding yang berdiri kokoh memisahkan sesuatu hal. Yang ada hanyalah batas batas aturan dalam berkomunikasi saja. Yang saya lihat di sini adalah banyaknya siswa yang berbagi cerita hidupnya ke guru. Layaknya seorang teman mereka sendiri namun tetap dalam koridornya. Guru yang senantiasa menyayangi muridnya, dan murid yang selalu menghormati gurunya.
![]() |
| Dokumen Pribadi |
Akibatnya, proses pembelajaran di dalam kelas pun berjalan dengan lancar dan ramai. Suasananya hidup karena antusias siswa yang tak malu bertanya kepada guru yang sedang mengajarinya. Sehingga para siswa di sekolah itu pun merasa nyaman dan aman. Itulah modal utama yang diperlukan dalam menerima pelajaran dari seorang guru.
Tidak hanya sisi akademik saja yang diperhatikan di sana, namun perkembangan EQ (Emotional Quation) para siswa juga diperhatikan. Bagaimana peran guru dalam melakukan suatu hal yang baik dan menjadi contoh bagi para muridnya, dan murid yang selalu santun terhadap orang yang lebih tua.
Ketika mamanggil orang yang begitu jauh, sang guru mencontohi untuk tidak memanggilnya dengan teriakan dari jarak yang jauh. Akan tetapi mereka menuju orang yang ingin dipanggilnya. Setelah dekat barulah memanggilnya.
5S atau singkatan dari Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun merupakan prinsip sekolah saya. Setiap bertemu dengan seorang guru atau melewati ruang guru. Kami wajib memberikan sapaan yang paling teridah untuk mereka. Hal ini bukan berarti para guru di sana gila hormat. Kami pun juga tidak merasa terpaksa melakukannya. Malah hal ini merupakan pembelajaran untuk meningkatkan EQ para siswa.
Konsep inilah yang ingin saya jumpai di sekolah sekolah yang lainnya. Konsep ini pulalah yang akan menjadikan sekolah impian bagi para murid. Suasana yang nyaman, aman, sejuk, bersahaja, dan mengerti satu dengan yang lainnya.
Sekolah tauladan bagi para siswa, guru guru yang selalu mencontohi sebelum menyuruh muridnya, guru guru yang dekat dengan siswa, guru guru yang mendengarkan segala pembicaraan dari siswa yang terkadang tidak ada gunanya. Tapi dengan adanya hal itu semua, semuanya akan menjadi lebih berguna. Semua anak didik menjadi lebih senang dalam perjalanannya mencari ilmu. Dan itu yang saya anggap dengan sekolah impian, dimana semua pihak siswa maupun guru ikhlas dalam menjalankan perannya masing masing.
Artikel ini diikutkan dalam Lomba Give Away Sekolah Impian
jpg.jpg)



0 Comments